Build Your Life With Game

Salatiga – Forum diskusi Agora kembali mengadakan diskusinya pada Jumat, 27 April 2012. Topik diskusi kali ini adalah “Build Your Life With Game”. Dan kali ini, yang tampil sebagai pembawa materi adalah Jasson Prestiliano, S.T., M.Cs.

Dalam diskusi yang dihadiri oleh sejumlah pengajar, staff dan mahasiswa FTI UKSW ini, penyampaian materi dimulai dari pengalaman Jasson Prestiliano, S.T., M.Cs dalam mengembangkan games.

Selain mengisahkan tentang pengalaman secara umum dalam mengembangakn games, Jasson Prestiliano, S.T., M.Cs yang akrab dipanggil Pak Jasson, juga menjelaskan tentang produk games yang sudah dihasilkan dan yang sedang dalam proses pengembangan. Sebut saja games Eternal Grace. Games ini oleh majalah Omega (edisi 90) dikatakan sebagai RPG Klasik dengan Cita Rasa Indonesia, selain itu InfoKomputer (November 2010) mengulasnya sebagai salah satu software pilihan. Atau games Vandarian Grace yang disebutkan oleh Zigma (edisi 106) sebagai games yang menjadi tonggak bagi kebangkitan RPG klasik.

Melalui diskusi ini juga terungkap sejumlah persoalan terkait dengan pengembangan games itu sendiri. Pertama, permasalahan “klasik” terkait dengan modal. Jasson mengatakan bahwa: “Untuk mengerjakan game dengan kualitas sekarang ini yang masih 2D, dibutuhkan dana ratusan juta rupiah. Modal yang dibutuhkan akan semakin besar, apabila yang dikembangkan adalah Game 3D”. Menjawab persoalan ini, Bapak Daniel Zakaria SH, MH, sebagai seorang peserta diskusi menyarankan agar dibangun kerjasama dengan Pemerintah di tingkat provinsi maupun pusat. Karena pada saat ini, pemerintah sedang memberikan perhatian pada pengembangan industri kreatif, dimana games berada pada ranah itu.

Persoalan kedua yang juga terungkap adalah terkati dengan pengaruh negatif games terhadap perkembangan anak/remaja. Untuk mengatasi persoalan ini, menurut Pak Jasson adalah dengan memperketat peredaran games berdasarkan ratting yang sesuai dengan kelompok umur. Ini penting untuk diperhatikan sehingga jangan sampai sampai game untuk dewasa dimainkan oleh anak/remaja misalnya. Karena pelanggaran terhadap rating games itu sendiri, dapat berdampak buruk bagikejiwaan dan perilaku anak/remaja. Selain itu, penetrasi games edukasi juga perlu ditingkatkan, agar para gamers pun memiliki alternatif dalam bermain games. Dan syarat utama untuk bisa melakukan itu adalah dengan mendesain games yang menarik serta memiliki muatan-muatan pendidikan di dalamnya.

Kemudian, persoaan ketiga terkait dengan hak kekayaan intelektual dari games yang dihasilkan. Seperti umumnya produk kreatif, pengembangan games pun penting untuk memperhatikan hak kekayaan intelektual. Oleh karena itu, setiap karya games yang dihasilkan sebaiknya diregistrasi agar hak-haknya bisa terlindungi.

Selain mengulas tentang perosalan-persoalan diatas diatas, dalam diskusi ini juga terungkap bahwa pengembangan games memiliki potensi besar yang dapat dimanfaatkan oleh FTI UKSW. Selain dari sisi kajian akademik yang masih yang menyediakakan ruang luas untuk riset-riset pengembangan games, disisi lain juga bisa dijadikan alat promosi. Dengan adanya SDM pembuat games, FTI bisa menyelenggarakan berbagai pelatihan maupun kompetisi untuk mempromosikan FTI UKSW bagi khalayak umum maupun calon peserta didik yang sedang mencari lembaga pendidikan terbaik untuk melanjutkan studi. (sth.puslit-fti)